Kesabaran Dan Kegagalan

Minggu, 25 Desember 2011
Hai  sobat, aku ingin memperkenalkan diri ya? Perkenalkan nama saya Abdul Aziz, sobat bisa memanggil saya Aziz. Sudah tidak asing lagi kan mendengar nama itu? Ya kalo kata temen-temen sih nama itu “pasaran”, tapi aku berfikir nama itu mempunyai banyak makna, hehehehe. Mau tau gak? Hmmm, salah satunya sih aziz itu salah satu asmaul husna yang artinya perkasa. Bagus bukan? Ya aku berharap dengan nama itu aku selalu bisa menghadapi segala cobaan di dunia dengan penuh ketegaran dan dengan jiwa yang perkasa. Ada sejarahnya loh tentang nama aku itu, dulu kata ibuku ia meminta pendapat kepada seorang ustad. Ada 3 pilihan dari pendapat ustad itu, yaitu Ahmad Saini, Nurul Huda, dan Abdul Aziz. Dari ketiga pilihan itu ibuku memilih Abdul Aziz, pasti ia mempunyai alasan tersendiri memilih nama itu.
Teman, aku ini dilahirkan dari keluarga yang bahagia. Mengapa demikian? Karena aku merasa selalu bahagia bersama mereka. Kesenangan, kesedihan bahkan kesusahan kami lewati bersama. Kami tinggak di Perumahan Taman Aster Blok G2/2 Desa Telaga Asih Kec. Cikarang Barat Kab. BekasiOwh iya, ayahku bernama Abdul Muis. Ia bekerja sebagai pelayaran, ia adalah orang yang begitu disiplin. Aku sering dimarahinya karena sebuah kesalahan yang menurutku sepele, tetapi bagi dia adalah hal yang besar. Ia juga sangat pekerja keras dalam mencari nafkah. Selain itu ibuku bernama Siti Martimah, ia bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Kegemarannya adalah memasak, tak heran masakannya enak. Aku merasa tidak makan kalau satu hari tidak merasakan masakan buatannya. Dari situlah ia bersemangat untuk mencoba untuk membuat resep-resep baru hingga pujian dari apa yang ia masak selalu diucapkan. Ia tidak akan bersemangat untuk memnuat makanan jika makanan tersebut tidak dibilang “enak”. Ibuku juga selalu memberikan kasih sayangnya kepada aku dan adik-adikku. Ia tak pernah bosan untuk selalu mendidik, sebuah asa ia harapkan agar anak-anaknya mempunyai kehidupan yang lebih baik kelak.
Ketika lebaran tahun kemarin aku sekeluarga pulang kampung. Dengan menggunakan mobil pribadi tentunya, yang dikendarai oleh pamanku. Pada saat itu ayahku baru pulang bekerja, kurang lebih enam bulan ia bekerja ditengah lautan. Luar biasa bukan? Bekerja dengan setiap hari hanya bisa melihat hamparan biru air laut. Bisingan mesin kapal selalu menghiasi hari-harinya. Tentunya ketika pulang bekerja adalah sebuah kesengan yang luar biasa dalam dirinya. Lebaran ditahun itu, kami gunakan untuk berkumpul bersama nenekku.
Ayahku pernah bercerita, kalau nenekku itu adalah seorang pekerja keras dan sangat mencintai anak-anaknya. Nenekku sudah seorang diri sejak ayahku berumur 3 tahun, jadi sampai saat ini ayahku belum tahu sedikitpun wajah kakekku itu. Ayahku memang terkadang ingin sekali tahu wajah kakekku, sebuah foto kakek tidak ada yang memiliki. Ayahku berharap ia akan bertemu di akhirat nanti. Nenekku sangat rajin beribadah, sampai usianya sudah tua pun ia masih tetap menjalankan semua kewajibannya tersebut. Yang luar biasanya, karena penglihatannya sudah tidak jelas lagi untuk membaca Al-quran ia membaca surat-surat pendek hingga ribuan kali. Dari hal itu pula ayahku sangat sayang dan bangga dengan nenekku itu.
Nenekku sudah tidak seperti dulu lagi, setiap harinya ia hanya diam dan beribadah. Keadaan dua jari tangan kanannya yang cacat menambah kesengsaraannya. Ia dirawat dan dijaga oleh bibiku yang bernama Salma. Bibiku sangat telaten dalam hal apapun ketika merawat nenekku, ia sangat sabar dan ikhlas dalam menjalaninya. Aku tidak tega ketika melihat nenekku menahan rasa sakit sebuah benjolan disamping punggungnya. Lukanya tersebut seperti sebuah daging yang keluar, lebih parahnya mengeluarkan bau tidak sedap jika tidak dibersihkan. Ia divonis dokter mengalami tumor ganas dan harus menjalankan operasi. Tapi hal itu tidak dilakukan karena keadaan nenek yang sudah santa tua untuk menjalani operasi, takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Ia selalu berteriak jika lukanya dibersihkan oleh bibiku. Sebenarnya luka tersebut sudah sembuh, tetapi beberapa tahun belakangan ini luka itu kembali menyerang tubuhnya yang sudah renta. Ia pun sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Tidak terbayang rasa sakit yang diterimanya. Berbagai carapun telah ditempuh oleh ayahku, mulai dari medis hingga pengobatan tradisionalpun tidak mampu menyembuhkan luka itu. Sebuah asa dan doa selalu dipanjatkan untuk kesembuhannya.
Ketika berada dikampung bersama nenekku sekitar 2 minggu, aku sekeluarga bergegas ingin kembali ke Jakarta. Tetapi, entah kenapa ketika persiapan untuk pulang aku ingin sekali memoto nenekku. Tak berfikir panjang aku bergegas mangampil telepon genggam dan memotonya. Ketika itu aku tak mempunyai fikiran apa-apa. Biasanya sudah menjadi kebiasaan ayahku untuk selalu berpamitan kepada nenek sebelu berangkat berlayar lagi.
Sesampainya di rumah, ayahku mencoba untuk menelfon ke kantornya untuk bertanya kapan ia akan diberangkatkan lagi. Ketika itu ia hanya disarankan untuk selalu siap kapan saja bisa diberangkatkan. Suatu ketika ada sebuah telfon masuk.
“Halo, bisa berbicara dengan bapak Abdul Muis?” suara seorang wanita yang lemah lembut, enatah siapa orang tersebut.
“Iya, bapak ada. Ini siapa ya? Aku menjawab dengan perasaan bingung.
“ini dari mba Melly dari kantor Gardline” Beliau menjawab
“Owh, iya tunggu sebentar!” Dengan tergesa-gesa, aku memanggil ayah yang ketika itu ada di luar rumah.
“Ayaaaaaaah ada telfon” suaraku keras.
“Dari siapaaa?” Ayahku menjawab
“Dari Mba melly, kantor Gardline” Aku kembali menjawab.
Dengan paras muka yang kaget dan senang ayahku berlari, dan mengangkat telfon tersebut.
“Halo, iya ada apa mba Melly?” Ayahku bertanya
“Iya pak, bapak lusa berangkat, hari ini ambil perlengkapan kerja di kantor” Mba Melly menjawab.
“iya mba siap, dengan senang hati saya siap berangkat. Saya sudah terlalu lama ada di darat, uang sudah menipis, hahahaha” jawabnya dengan sedikit candaan.
“Hahaha, ok bapak Muis saya tunggu di kantor hari ini!” jawabnya.
“Iya mba” jawab ayahku.
Tak lama setelah telfon ditutup, ayahku bersiap-siap dan berangkat ke kantor pada hari itu juga. Ketika sampainya dirumah ia merasa bingung, apakah ia akan pulang ke kampung untuk berpamitan dengan nenekku? Seperti tahun-tahun sebelumnya ia selalu berpamitan kepada nenekku sebelum pergi berlayar. Tetapi saat itu ia memutuskan untuk tidak pergi ke kampung karena ia merasa sudah cukup bertemu ketika lebaran. Selain itu ia juga merasa memerlukan biaya yang mahal lagi jika ia pergi ke kampung, jadi ia hanya berpamitan melalui telefon.
Akhirnya hari yang sudah ditunggu itu datang, aku dan keluarga mengantarkan ayah ke terminal bis Damri yang berada di Bekasi. Bis Damri merupakan bis yang langsung mengantarkan ke Bandara Soekarno-Hatta. Ayahku tidak mau diantarkan langsung ke bandara, karena ia tidak mau merepotkan pamanku. Padahal aku, ibu dan adikku ingin sekali mengantarkannya sampai bandara. Karena masih bisa mengahabiskan waktu agak lama diperjalanan.
Ketika itu kami naik mobil pribadi yang dikendarai oleh pamanku. Entah kenapa setiap ayahku berangkat untuk bekerja, ada perasaan tidak rela jika ia pergi jauh meskipun hanya beberapa bulan. Tetesan air mata selalu menghiasi pipiku ketika ia berpamitan, ingin rasanya hati ini kuat untuk tidak meneteskan air mata tetapi hal itu sulit dilakukan. Saya tahu ayah tidak membutuhkan air mata itu, tetapi ia ingin aku menjadi orang yang sukses didunia dan akhirat nanti. Dari situlah aku berfikir, aku tidak boleh mengecewakan ayah dan ibu. Menurutku satu hari tanpa adanya ayah dalam keluarga nampaknya ada yang belum lengkap. Saya harus ikhlas menjalani semua ini, pasti Allah SWT mempunyai rencana yang baik.
Ketika ayah tidak ada dirumah, aku berpikir butuh beberapa bulan lagi untuk bersama. Entah kenapa hal itu selalu muncul dalam benakku, padahal sepertinya aku sudah terbiasa ditinggal, bahkan aku pernah ditinggal selama satu setengah tahun, cukup lama bukan? Ya, mungkin banyak orang berpendapat orang pelayaran itu mempunyai uang yang banyak dan hidupnya bahagia, tapi mnurutku semua kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Disaat seorang kepala rumah tangga tidak ada dirumah dan uang tersedia untk bersenang-senang sepertinya kesenangan itu terasa kurang.
Hari-hariku pun dimulai tanpa adanya kepala keluarga, dirumah hanya ada aku, ibu dan kedua adikku. Adikku yang pertama bernama  Nuraini Mareta Laut yang masih duduk dikelas 6 Sekolah Dasar dan adikku yang kedua adalah Maulida Apprilyani yang masih duduk di Taman Kanak-kanak. Aku merasa menjadi pengganti ayahku, harus bisa melakukan pekerjaan yang biasa dipegang oleh ayahku. Seperti adanya kerusakan didalam rumah, aku harus bisa menyelesaikannya. Selain itu juga, saya merasa beranggung jawab untuk menjaga keamanan dirumah.
Untuk mengurangi rasa rindu, ayahku selalu menelfon kerumah. Hampir setiap hari telfon berdering, entah itu pagi, siang, sore bahkan tengah malam. Disaat menelfon ia selalu menyakan bagaimana keadaan kami, dan perkembangan adik-adikku. Meskipun hanya lewat telfon, mendengar suaranya saja sudah cukup mengurangi rasa rindu dan bisa memastikan bahwa keadaan ayahku yang jauh disana masih berada dilindungan Allah SWT. Aku selalu khawatir dengan kesehatan ayahku, saat ini berbagai macam penyakit bersarang ditubuhnya. Mungkin karena faktor usia, penyakit mudah menyerang tubuhnya. Penyakit diabetes adalah penyakit utama yang dideritanya. Suatu ketika ia pernah divonis dokter kalu penyakit diabetesnya tersebut tidak bisa disembuhkan, bahkan bisa meninggal dunia. Ketika divonis, ia tak langsung percaya begitu saja. Ia berusaha mencari sebuah tumbuhan herbal yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Setelah menemukan tumbuhan herbal tersebut, ia berusaha untuk memulai untuk tidak memakan makanan yang berkadar gula tinggi. Setiap pagi ia hanya makan kentang dan umbi-umbian, untuk pengganti nasi dokter menyarankan untuk cari penggantinya. Nasi jagung dan nasi merah dipilihnya untuk makan siang, untuk makan malam ia kembali makan umbi-umbian. Tidak lupa jamu dari tumbuhan herbal setiap hari diminumnya. Taukah teman? Jamu yang setiap hari diminumnya itu sangat pahit, karena penasaran aku nekat untuk mencobanya. Dari situ aku tak mau mencobanya lagi, tapi ayahku nampak tidak merasa pahit ketika meminumnya. Aku berpikir, ayahku sangat luar biasa dalam menjalani hidupnya, tak ia hiraukan rasa dari makanan-makanan tersebut. Karena ia ingin sembuh dari penyakitnya, setelah beberapa lama menjalani hal tersebut, akhirnya semua vonis dokter bisa dipatahkan. Ayahku bisa sembuh, meskipun tidak sepenuhnya. Ini menandakan bahwa ajal hanya ada ditangan Allah SWT, ayahku bercerita vonis dokter itu ketika ia sudah sembuh. Pasti ia melakukan hal itu agar keluarga tidak khawatir dengan keadaannya tersebut.
Kurang lebih empat bulan ayahku bekerja, tak disangka-sangka ada sebuah kabar tidak baik. Nenekku sakit parah, ia tidak bisa duduk bahkan berdiri. Ia hanya bisa tidur dengan menahan rasa sakit. Keluargaku menyarankan agar ayah pulang dari pekerjaannya, takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Aku tak tahu apa yang ada dipikiran ayahku yang menyebabkan ia memutuskan untuk tidak pulang bekerja. Alasan itu tida ayah bicarakan kepada kami, aku berpikir pasti ayah sudah memikir beribu kali untuk tidak pulang dalam bekerja. ayahku hanya menyuruh ibu untuk pergi kekampung melihat keadaan nenekku. Tapi amanat itu mempunyai kendala, jika ibuku pergi ia akan bersama adikku yang kedua, dan aku berada dirumah bersama adikku yang pertama.
 “Ziz!” Ibu memanggilku
“Iya bu” Aku menjawab dengan sejuta pertanyaan.
“Ibu mau pergi ke kampung untuk menjenguk nenekmu, bagaimana kalau kamu dirumah saja bersama adikmu? Mau tidak?” Jawabnya
“Iya bu, aku bersama adik dirumah saja, tidak apa-apa.” Jawabku
“Tapi ibu pasti akan khawatir jika kau hanya berdua. Apa ibu minta tolong sama adik saja ya?” Jawabnya dengan nada cemas.
“Tak usah bu, merepotkan bibi saja nanti” jawabku
“Tidak apa-apa, supaya ibu tidak khawatir” Jawabnya
“Yasudah bu, terserah ibu saja” jawabku
“Iya, nanti ibu suruh adik ibu untuk menginap disin sementara. Kamu kan pasti sibuk, jadi ada yang menjaga adikmu dirumah” Jawabnya kembali.
Akhirnya ibupun pergi ke kampung dengan naik bis Pahala Kencana. Ia pergi bersama adikku, Ida. Sebenarnya ia merasa takut pergi berdua dengan adikku yang kedua tanpa ditemani oleh seorang pria. Demi amanat ayah, ibu tak menghiraukan itu semua, ia tahu Allah SWT pasti akan melindunginya dari segala marabahaya. Dia juga yakin kalau apapun yang niatnya baik pasti tidak akan ada halangan untuk merealisasikan niat tersebut.
Ketika berada diperjalanan ibuku selalu memanjatkan do’a kepada Allah SWT agar sampai ditujuan dengan selamat. Aku yang berada di rumah, selalu menelfonnya untuk memastikan kalau mereka baik-baik saja. Berkali-kali ayahku menelfon untuk menanyakan ibu sudah sampai mana dan menanyakan kabar terbaru tentang nenekku. Takut, resah dan gelisah menghinggapi pikirannya. Semua rasa itu selalu ia rasakan, takut karena berada diperjalanan hanya berdua, resah dan gelisah karena keadaan nenek yang tak kunjung membaik.
Setelah perjalanan panjang telah dilaluinya. Akhirnya ia sampai dirumah nenek, meskipun dalam keadaan lelah. Ia langsung melihat keadaan nenek yang ketika itu masih tidur. Ia kaget dengan keadaan nenek yang hanya terbaring lemah melawan rasa sakit yang dideritanya. Pasti ada perasaan yang tidak tega melihat seseorang yang telah lanjut usia merasakan derita yang begitu berkepanjangan. Apa lagi umur nenekku yang sudah sangat tua, kira-kira umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Itu yang membuat perasaan yang tidak tega melihatnya melawan rasa sakit yang luar biasa.
Tak hanya ibuku yang berada disana, mulai dari saudara-saudaraku hingga cucunya berada disana. Terkecuali aku dan adikkku yang pertama tak bisa menjenguk nenek. Ada sebuah gejolak di hati ini yang ingin sekali menjenguk nenek, aku sayang dengan nenekku. Tetapi apa daya, aku tak bisa menjenguk nenek karena ada persiapan untuk menghadapi Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku hanya bisa berdoa kepada Allah SWT demi kesembuhannya.
Selain itu keadaan yang lebih parah dari nenekku adalah kedua kakinya berwarna hitam seperti terbakar. Dugaan keluargaku nenek mengidap penyakit kencing manis atau bisa disebut dengan diabetes. Yaitu sebuah penyakit yang kandungan dalam darahnya mengandung banyak glukosa (gula). Ini disebabkan karena kerja tubuh yang tidak mampu memproduksi hormon insulin dengan baik, sehingga pengolahan zat gula yang tidak sempurna mudah masuk kedalam darah. Tetapi dugaan itu dibantah oleh bibiku, karena nenekku jarang memakan makanan yang manis-manis. Nyatanya nenekku benar-benar mempunyai penyakit diabetes stadium 2, sangat parah bukan?
Setiap harinya nenekku dikontrol oleh dokter untuk memeriksa kemajuan kesehatannya. Sang dokter setiap kali memeriksa tekanan darahnya selalu berada dalam tekanan darah tinggi. Maka dari itu selain mempunyai penyakit diabetes ia juga mempunyai penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi). Tubuhnya yang diinfus menambah kesengsaraannya. Pada suatu waktu nenekku tidak bisa buang air kecil, dengan bantuan seorang dokter. Untuk buang air kecil, nenekku memerlukan sebuah selang. Yang tahu cara dari menggunakan selang tu hany dokter, tapi ketika dicoba untuk memasang selang itu nenekku teriak merasakan kesakitan. Ibuku sangat tidak tega melihat nenek yang diperlakukan demikian, tetapi demi kesembuhannya, itu memang harus dilakukan.
Dalam keadaan sakit, ia sudah tak bisa membalikan tubuhnya sendiri, perlu bantuan orang lain untuk membalikkan tubuhnya. Terkadang ia berbicara sendiri kalau disamping tubuhnya ada ubi untuk dirinya, padahal tidak ada seorangpun yang memberikan ubi. Meskipun sudah tua dan dalam keadaan sakit ia tetap ingat kepada Allah SWT untuk melaksanakan peritahnya. Meskipun sudah tak tahu kapan waktu shalat, ia terkadang teriak ingin shalat. Tentu ia melakukan shalat hanya dilakukan ditempat tidurnya. Pokoknya yang namanya kewajiban untuk sembahyang tidak pernah ia lupakan.  Luar biasa bukan? Sangat jarang orang yang sudah tua masih ingat dengan semua kewajibannya. Maka dari itu keluarga kami yakin kalau nenekku akan bahagia di akhirat nanti.
Setiap harinya ibuku berada di rumah nenek hanya membantu bibi merawat nenek. Kekhawatiran akan aku dan adikku yang ada dirumah selalu menghampiri pikirannya. Hanya melalui telepon ia memantau keadaanku. Tapi kekhatirannya tidak begitu parah karena ada adik ibuku yang menjagaku. Sebenarnya ibuku sangat tidak bisa melihat keadaan nenekku yang kian hari makin parah. Tetapi karena amanat dari ayah untuk menjenguk nenek menghapuskan semua ketakutannya itu.
Tak terasa seminggu sudah ibuku merawat nenek, ketika ayah menelfon ibu. Ibu meminta izin kepada ayah untuk pulang kerumah. Ia merasa sudah cukup seminggu berada dirumah nenek. Dengan izin ayah, akhirnya ia pulang dengan menggunakan bis yang sama. Dan menjalani kehidupan seperti biasa bersama aku dan kedua adikku.
Ketika ibu sudah ada di rumah, ia selalu menanyakan keadaan nenek dengan bibiku. Tidak ada perkembangan kesehatan yang signifikan ditunjukkan oleh nenekku. Tak bosan-bosannya ayahku menanyakan kabar dari nenekku. Kekhawatirannya ditunjukkan dengan seringnya ia menelfon, ia tak menghiraukan uang yang dihabiskannya untuk menelfon.
Akhirnya kabar yang tak membahagiakan pun datang, aku dapat telfon dari Mba All, ia anak dari bibiku. Kabar itu datang setelah dua hari kepulangan ibu dari rumah nenek.
“Halo! Assalamu’alaikum kak!” Dengan suara serak sambil menangis menahan kesedihan.
“Iya, wa’alaikum salam! Kenapa kak?” Aku menjawab dan tak menanyakan kenapa dirinya menangis.
“Nenek meninggal, kaaaaak!” Ia menjawab dengan menangis yang semakin keras. Menunjukkan bahwa belum terimanya dengan kenyataan.
“Apa????” Jawabku teriak, seakan tidak percaya dengan berita itu. Perasaanku kaget, dan tetesan air mata itu jatuh dari mataku.
“Iya kak, nenek sudah meninggal tadi jam 3.00.” Jawabnya sambil terisak-isak menangis.
Karena sudah tak sanggup mendengar kabar tersebut, aku menyerahkan telefon itu kepada ibu. Dan aku menangis di kamar sehingga tak tahu apa yang diperbincangkan. Ketika berada dikamar, aku bertanya-tanya didalam hati, apakah ini penyebab aku ingin memoto nenek ketika lebaran kemarin? Karena nenek ingin pergi selamanya dan tak akan pernah kembali. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Aku kecewa karena tak bisa mengantarkan nenekku ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Aku akan datang ke makam nenek setelah urusan sekolah terselesaikan.
Ibuku mendapatkan kabar dari bibi kalu nenek akan dimakamkan pada pukul 09.00 pagi. Dimakamkan disamping makam kakek, jarak pamakaman dari rumah kurang lebih 500 meter. Ya, memang tak terlalu jauh, oleh karena itu kami sekeluarga bisa mengunjungi makam nenek dengan mudah.
Aku teringat dengan ayahku, aku tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya ia ketika mendapat kabar ini. Ia pasti kaget dan hanya bisa menangis seperti diriku, sebuah doaa pasti ia panjatkan.Terlintas dalam pikiranku, ayahku belum pernah melihat wajah kakek seperti apa dan saat ini ia tak bisa melihat jasad nenek untuk terakhir kalinya. Apakah tidak ada rasa penyesalan dalam dirinya ketika mengambil keputusan untuk tidak pulang dari berlayar. Semua jawaban hanya bisa dijawab olehnya, ia mengambil keputusan tersebut pasti dengan berfikir panjang dan memikirkan jangka panjang dan pendeknya.
Ketika dimalam hari ayahku menelfon, aku dan ibuku tak sanggup memberi tahu apa yang sudah terjadi. Dengan terpaksa akhirnya ibu menceritakan apa yang telah terjad, ternyata ayah sudah tahu sebelumnya. Ketika itu suaranya seperti orang yang telah menangis. Suara seraknya menghiasi telefon tersebut. Ayahku tak memerintahkan ibu untuk kembali ke kampung, karena menurutnya seminggu merawat nenek sudah cukup. Kalau saja ibuku pergi, ia takkan sempat melihat jasad terakhir nenek. Hanya do’a yang dapat membantu nenek dialam sana. Sungguh ketabahan yang luar biasa ditunjukkan oleh ayahku. Ketabahannya tidak bisa melihat nenek terakhir kalinya tak membuatnya untuk berhenti bersemangat untuk menjalani hidup ini. Itu yang membuat aku sayang dan bangga mempunya ayah sepertinya.
Tak terasa dua bulan pun berlalu, itu menunjukkan bahwa ayahku telah menghabiskan masa kontraknya bekerja. Kurang lebih enam bulan bekerja, enam bulan pula ia meninggalkan keluarga dan kurang lebih dua bulan kami ditinggalkan oleh nenek tercinta. Untuk kepulangan ayahku ditahun ini sepertinya tak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena kami masih dalam keadaan berduka.
Tak berapa lama setelah kepulangan nenek, ayah mengingatkanku untuk cepat-cepat mendaftar ke SMA Taruna Nusantara. Meskipun ia masih sedih dengan meninggalnya nenek, tapi ia cepat bangkit dalam kesedihannya itu. Ia langsung memikirkan masa yang akan datang, yang akan ditempuhnya. Meurutnya pasti perjalanan kehidupan masih panjang, jangan sampai sebuah cobaan yang Allah berikan akan menghambat suatu kebahagiaan yang akan didapat dimasa yang akan datang.
Apakah teman tahu apa SMA Taruna Nusantara itu? Iya betul, SMA SMA Taruna Nusantara adalah sebuah sekolah swasta yang ada di Magelang yang biasa disingkat dengan SMA TN, sekolah tersebut melatih muridnya seperti dalam sekolah kemiliteran. Sekolah dengan sistem asrama, kedisiplinan pun sangat diperhatikan, maka dari itu tak heran alumni dari sekolah tersebut banyak yang mengalami kesuksesan. Ayahku telah mengenalkanku sekolah tersebut ketika aku masih dalam duduk di kelas 6 SD. Sejak itu ayah memberikan motivasi belajar kepada diriku. Ia memberikan motivasi untuk rajin belajar dan raihlah prestasi yang baik. Sejak saat itu pula sekolah tersebut menjadi sekolah impianku. Motivasi yang ayah berikan selalu aku pegang dalam kehidupan.
Sejak ayah mengingatkanku untuk cepat-cepat mendaftar ke SMA Taruna Nusantara, keesokan harinya aku mencari informasi pendaftaran melalui internet. Setelah mendapat informasi tersebut, aku sempat tidak percaya diri dengan diriku. Karena seleksi siswa baru tidak hanya dibuka didaerah Jakarta tetapi dibeberapa kota besar di Indonesia seperti Banda Aceh, Malang, Lampung, Jayapura dan berbagai kota lainnya. Tak bisa dibayangkan berapa jumlah pesaing-pesaingku diluar sana. Selain itu biaya yang tak murah juga membuat diriku sangat kaget, dengan biaya uang pangkal 24 juta, biaya komite 1 juta, biaya sumbangan sukarela dan perbulan 3 juta. Itu masih dalam kategori pertama, untuk kategori kedua memberikan sumbangan 50 juta. Pasti ayah sudah tak menghiraukan dengan biaya tersebut, dari situlah semangatku terpacu untuk bisa diterima bersekolah di SMA Taruna Nusantara.
Semua persyaratan yang harus dipenuhi aku mengerjakan sendiri. Aku merasa jika masih bisa aku kerjakan, aku tidak akan menyerahlkan pekerjaan itu kepada orang lain apalagi kepada ibuku. Aku berusaha untuk menjadi seorang yang mandiri. Persyaratannya pun tak begitu sulit, hanya menyiapkan foto copy kartu pelajar, surat keterangan siswa dari sekolah, foto copy raport SMP dari semester 1-5 dan lain-lain. Untuk nilai raport harus lebih dari nilai 7.00 setiap mata pelajaran B. Indonesia, B. Inggris, Matematika dan IPA.  Diluar dari persyaratan itu, aku mencoba untuk melampirkan berbagai sertifikat prestasi baik dalam akademik maupun non akademik. Dalam bidang non akademik aku melampirkan seritfikat kejuaraan karate. Selain itu sertifikat dari lemabaga kursus pun aku lampirkan. Aku berharap dari berbagai sertifikat yang aku punya, aku bisa mempunyai peluang besar untuk bisa diterima di SMA itu.
Selain mempersiapkan persyaratan yang harus dipenuhi untuk pendaftaran, aku mencoba untuk mencari soal-soal Taruna Nusantara tahun-tahun sebelumnya, aku berharap dari beberapa soal akan keluar dan menjadi referensiki dalam belajar. Ketika sudah mendapatkannya dan mencoba untuk mengerjakan sebagian besar bisa aku kerjakan, tetapi untuk pelajaran matematika aku banyak yang tidak bisa. Dari situ putus asa hinggap dalam diriku, tetapi aku cepat bangkit untuk selalu optimis. Mencoba bertanya dari guru les sampai guru disekolah pun telah aku coba, alhamdulillah beberapa dari soal yang tidak mengerti sedikit demi sedikit telah aku pahami.
Setelah mendapatkan mekanisme pendaftaran, ternyata untuk daerah jabodetabek mendaftar di Cijantung, Jakarta Timur. Ketika itu aku merasa kebingungan dengan tidak adannya ayah di rumah, tentunya aku harus mencari akal untuk bisa pergi kesana. Dengan mengeluarkan biaya lebih, ibuku memakai jasa supir. Akhirnya aku dan ibuku pergi untuk mendaftar, ketika itu aku izin untuk tidak masuk sekolah demi mendaftar ke sekolah tersebut. Mengapa aku tidak sekolah? Karena pendaftaran dibuka dari hari Senin-Jumat jam 07.00-15.00 WIB. Tentu, jika tidak izin aku tidak akan bisa mendaftar.
Ketika berada di perjalanan, aku sangat tegang dan berbagai pikiran terlintas dalam benakku. Mulai dari takut tak mencukupi kriteria pendaftaran merasa tak pantas untuk menjadi siswa SMA TN, hingga takut mengecewakan orang tuaku. Tapi semua hal itu hilang ketika aku ingat dengan ucapan ayahku yaitu selalu optimis dan jangan pernah merasa minder jika mengahadapi seseorang yang terlihat lebih pandai dari kita. Nasihat dan motivasi yang ayah berikan kepadaku memang selalu menghiasi kehidupanku. Ia memang seorang motivator dalam hidupku.
Akhirnya aku sampai ditempat pendaftaran. Ternyata yang menjadi panitia adalah anggota dari Militer Angkatan Darat. Sungguh pemandangan yang jarang kulihat sebelumnya. Ternyata untuk kedatangan pertama kali ke tempat pendaftaran hanya mengambil sebuah formulir yang membutuhkan tanda tengan kepala sekolahku. Meskipun demikian sang panitia mencoba untuk melihat persyaratan-persyaratan yang aku bawa. Ketika panitia itu melihat persyaratan tersebut, perasaan yang gerogi aku rasakan. Panitia itu berkata kalau nilai-nilaiku bagus dan mempunyai banyak sertifikat sehingga mempunyai peluang besar untuk bisa diterima di SMA TN. Setelah panitia berkata demikian, kepercayaan diriku semakin meningkat. Keputus asaan nampaknya sudah tidak ada dalam diriku. Hanya percaya diri yang tinggi dan kata sukses ada dalam jiwa dan ragaku. Setelah itu, aku dipersilahkan pulang dan harus mengisi serta mengembalikkan formulir pada tanggal yang telah ditentukan. Jika tidak maka dianggap telah mengundurkan diri.
Owh iya, ada 3 tahap tes yang harus aku tempuh. Sistemnya pun menggunakan sistem gugur. Jika tidak lolos dalam tes pertama maka tidak bisa meneruskan tes selanjutnya dan harus menutup rapat-rapat impian yang tertanam dalam diri. Adapun tahap tesnya adalah tes akademik, tes kesehatan (Medical Check Up) dan tes wawancara. Tahap tes akademik dan kesehatan dilaksanakan di setiap cabang pendaftaran sedangkan untuk tes wawancara dilakukan di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Jika sampai tahap wawancara maka diwajibkan untuk membayar uang pangkal + uang komite yang berjumlah 25 juta. Memang biaya yang sangat mahal, tapi aku yakin ayah sudah mempunyai rencana jika benar-bener aku bisa diterima. Jika tidak lolos dalam tes wawancara maka semua uang yang telah dibayar akan dikembalikan sepenuhnya.
Merasa kalau lebih cepat lebih baik, aku mengisi formulir yang diberikan dan meminta tanda tangan kepala sekolah. Ketika meminta tanda tangan dengan kepala sekolah, ia memeberi semangat kepadaku dan memebrikan doa agar aku bisa diterima menjadi siswa TN, dan menjadi sebuah kebangaan bagi orang tuaku. Aku sangat senang sekali diberi dukungan, selain kepala sekolah, teman-teman sekelasku juga memberikan dukungan yang sama. Setelah formulir saya isi dengan baik, dan kekurangan persyaratan telah aku lengkapi. Saatnya untuk mengembalikan formulir tersebut. Untuk menghemat biaya, ibuku meminta tolong kepada ayahku untuk mengembalikkan formulir tersebut.
Hari-haripun aku lalui dengan belajar, belajar dan belajar. Meskipun terkadang aku menyia-nyiakan waktu. Tetapi aku selalu berusaha untuk belajar dengan maksimal agar mendapat hasil yang maksimal pula. Selain berusaha belajar, aku pun mengiri belajar tersebut dengan berdoa kepada Allah SWT. Untuk diberikan jalan yang terbaik untuk kehidupanku. Aku pun membuat sebuah nadzar, jika aku bisa lolos pada tahap pertama aku akan berpuasa selama tiga hari. Sebuah nadzar yang ringan memang, insyaallah Allah akan mengabulkan segala doa yang aku panjatkan kepadanya.
Seminggu menjelang tes akademik, ada sebuah rapat para calon siswa SMA TN dan orang tua. Tentu hal itu menjadi sebuah kebingungan bagi ibuku, jasa supir nampaknya memboroskan biaya. Dan tak disangka-sangka tetanggaku mau mengantarkan kami. Ternyata, pertemuan tersebut membahas berbagai persoalan menyangkut mekanisme penerimaan siswa. Pertemuan antar calon siswa itu membuat ku tahu siapa saja pesaingku untuk daerah DKI Jakarta. Terlihat wajah-wajah yang pintar dari pesaing-pesaingku, sehingga membuat minder diriku. Ketidakpercayaan diri itu muncul lagi dalam benakku, entah kenapa aku merasa paling bodoh diantara mereka. Mereka berasal dari sekolah-sekolah   yang terkenal dari Jakarta. Aku tak hafal mereka berasal dari sekolah mana saja, tapi yang paling menonjol diantara mereka adalah siswa-siswi dari Al-azhar dan Labschool Jakarta. Sedangkan diriku hanyalah seorang siswa yang berasal dari sekolah yang tak dikenal. Tapi aku tak mau berkecil hati dengan adanya hal tersebut, aku harus bisa menyaingi mereka semua. Hanya doa dari ayah dan ibuku serta usaha yang aku lakukan pasti akan ada sebuah jalan terang disana.
Sehari menjelang tes akademik aku belajar semaksimal mungkin. Suapaya besok bisa menjawab soal dengan sebaik-baiknya. Setelah belajar ibu bertanya kepadaku,
“Sudah selesai Ziz belajarnya?” Tanyanya dengan heran.
“Iya bu, aku tak mau berlarut-larut belajar. Aku takut mengantuk besok.” Jawabku, yang ketika itu jam masih menunjukkan pukul 21.00 WIB.
“Kenapa? Memang sudah bisa semua?” Ibuku bertanya dengan heran.
“Insyaallah sudah bisa, persiapanku tak hanya hari ini saja mah, aku sudah mempersiapkan ini kurang lebih 3 minggu.” Jawabku.
“Oh, yasudah kamu tidur saja. Supaya besok kamu dalam keadaan yang sehat dan bisa menyelesaikan semua soal yang kamu hadapi. Malam ini ibu akan membuat bekal untuk besok.” Jawabnya .
“Siap, jangan lupa ya bu doakan aku!” Jawabku.
“Iya, ibu selalu berdoa demi kesuksesanmu.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Oke deh bu.”  Jawabku, dan tak berlama-lama akhirnya aku tidur.
Tidurku nampaknya tidak nyenyak, suara-suara apapun terdengar. Aku heran dengan hal itu, padahal hanya hitungan jam aku mengahadapi tes yang akan merubah kehidupanku. Mungkin hal itu terjadi karena ada rasa resah dan gelisah dalam pikiranku. Takut tidak bisa melanjutkan tahap kedua adalah oerasaan yang selalu ada dalm benakku. Aku telah berusaha untuk tidur dengan nyenyak, tapi nampaknya susah sekali. Tak lama aku akhirnya tertidur dengan nyenyak.
Ketika aku telah tertidur nyenyak, ada sebuah suara sepertinya orang yang sedang memasak. Aku menerka kalau ibu sedang mempersiapkan segala kebutuhan untuk pergi menemaniku tes. Rasa kantuk tak ku hiraukan, jam telah menunjukkan pukul 04.15 WIB akhirnya aku pun terbangun. Dan benar tebakanku kalau ibu sedang memasak.
“Wah, ibu ternyata sudah bangun, bangun jam berapa bu?” Tanyaku dengan tak menghiraukan rasa kantuk.
“Iya ziz, ibu bangun dari jam 03.45, cepat mandi sana!” Jawab ibu.
“Iya bu.” Jawabku
Dengan semangat yang menggebu-gebu, aku akhirnya mandi dan melakukan segenap ibadah. Meminta kepada Allah SWT agar aku diberikan kemudahan dalam menjawab semua soal dan bisa diterima sebagai siswa di SMA TN. Suasana rumahku jadi agak ramai, ketika ibu, aku dan kedua adikku siapa-siap untuk pergi. Karena jam telah menunjukkan pukul 05.25, kami memutuskan untuk pergi ke tempat diadakannya tes akademik yang ada di Cijantung Jakarta Timur. Ibuku menggunakan jasa supir untuk bisa mengantarkan kami ke tempat tujuan. Sebenarnya dengan menggunakan jasa supir ibuku mengeluarkan biaya lebih, tapi tak ada pilihan lain. Ibuku telah tak menghiraukan lagi meskipun harus mengeluarkan biaya tambahan.
Ditengah perjalanan, aku memutuskan untuk sarapan didalam mobil. Aku takut dengan perut lapar akan mengganggu konsentrasiku dalam mengerjakan soal. Aku makan dengan bekal yang telah disapkan oleh ibuku. Tak berapa lama setelah aku selesai sarapan, akhirnya aku sampai ditempat tujuan. Perasaan ku ketika dikumpulkan dengan pesaingku sungguh tidak karuan. Perasaan takut, gerogi, resah dan gelisah tercampur dalam diriku. Aku hanya berusaha menenangkan diri sendiri agar tetap fokus dan berkonsentrasi. Pada saat aku bertemu dengan pesaing-pesaingku mereka  terlihat santai dan seolah-olah mereka akan lolos dalam tahap tes akademik. Dari situlah aku terpacu untuk tetap percaya diri dan tak menghiraukan penampilan mereka dari luar. Aku yakin mereka juga mempunyai perasaan yang sama seperti diriku.
 Tes pun dimulai, untuk jam pertama adalah mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia . Dari kedua mata pelajaran tersebut berjumlah 100 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 120 menit. Sebuah hal yang luar biasa memang. Dalam waktu yang sedemikian singkat pikiran dibagi dengan 2 jenis mata pelajaran yang berbeda. Aku harus mempunyai strategi dalam menjawab soal. Aku memutuskan untuk mendahulukan menyelesaikan Bahasa Indonesia. Mengapa demikian? Agar aku bisa terus konsentrasi dalam menjawab setiap soal kedua mata pelajaran tersebut. Jika aku mendahulukan Matematika, aku takut tidak akan bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Sungguh alhamdulillah tidak ada perasaan tegang ketika aku mengerjakan soal-soal itu. Hanya saja beberapa dari soal itu tak aku jawab karena takut salah. Jika ada kesalahan akan bernilai -1 skor, jika jawaban benar akan bernilai 3 dan soal yang tak dijawab akan bernilai 0. Maka dari itu aku memutuskan untuk tidak mengisi soal yang ragu utnuk menjawabnya. Setelah dua jam berlalu, aku dan peserta lainnya dipersilahkan keluar untuk istirahat selama 30 menit.
Aku keluar dengan perasaan yang lumayan gembira karena mayoritas dari soal tersebut dapat aku selesaikan. Tetapi disamping itu juga ada rasa yang tak percaya diri kalu jawabanku itu benar.
“Gimana Ziz? Susah tidak soalnya?” Tanya ibuku dengan wajah yang resah.
“Kalo dibilang susah sih iya bu, tapi semoga ajah banyak yang benar.” Jawabku dengan perasaan yang resah.
“Oh gitu, setelah ini pelajaran apa lagi? Kamu makan dulu sana, supaya tambah konsentrasi!” Tanya ibuku sekaligus menyuruhku untuk makan.
“Setelah ini pelajaran Fisika, Biologi dan Bahasa Inggris bu, iya aku mau makan dulu” Jawabku
“Yasudah, ambil saja makanannya! Ibu bersama adikmu disini saja.” Jawabnya kembali.
Akhirnya aku pun makan, masakan ibuku sangat cocok dilidahku. Sehingga aku sangat lahap memakannya. Setelah selesai, tak berapa lama bel untuk melanjutkan tes pun berbunyi.
“Bu, aku mau masuk dulu ya? Mohon doa restu ya!”
“Iya ziz, masuk sana! Ibu akan bantu doa juga.” Jawabnya.
Tes akademik yang kedua pun dimulai dengan mata pelajaran Fisika, Biologi dan Bahasa Inggris. Dari ketiga mata pelajaran tersebut digabung menjadi datu dalam 100 soal dan harus diselesaikan dalam waktu 120 menit. Aku memutuskan untuk menyelesaikan Bahasa Inggris terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan Biologi dan Fisika. Aku mendapatkan kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal Fisika, sebelumya aku tak pernah menemukan soal yang dalam menyelesaikannya sesulit itu. Jika aku ragu mengisinya dan ternyata salah akan dikurangi 1 poin, aku sangat bingung ketika itu. aku mencoba-coba menggunakan rumus-rumus yang ku ketahui, dengan usaha yang keras akhirnya pelajaran fisika aku bisa menyelesaikan meskipun tak sempurna. Untuk soal yang benar-benar tak kuketahui, aku tak mau mengambil resiko untuk menjawabnya.
Tak terasa dua jam pun berlalu, lembar soal dan lembar jawaban harus dikumpulkan. Meskipun merasa puas telah melewati tes itu, tapi hatiku tak tenang. Apakah aku bisa lolos pada tahap pertama ini? Itulah pertanyaan yang selalu ada dalam pikiranku setelah keluar dari tempat tes.
“Kenapa Ziz? Kok terkihat sedih?” Tanya Ibuku.
“Iya bu, pertanyaannya susah-susah. Aku takut tak bisa lolos dari tahap ini.” Jawabku.
“Yasudah jangan dipirkan! Pasrah saja sama Allah, yang penting kamu sudah berusaha” Jawabnya, berusaha agar aku tak sedih lagi.
“Iya bu.” Jawabku singkat.
Akhirnya kami pun pulang.
“Oh iya Ziz, kapan pengumuman hasil tesnya?” Tanya Ibuku.
“Kurang lebih satu bulan kedepan bu, diumumkan di websitenya” Jawabku.
“Oh yasudah, kamu tidak usah memikirkan tes yang tadi, sekarang kamu harus menatap masa depan. Kamu harus yakin kalau bisa diterima.” Jawab Ibuku dengan memberikan motivasi kepadaku.
“Iya bu, aku akan berusaha untuk tidak memikirkan itu lagi.” Jawabku.
Perjalanan pulang kami terasa sangat cepat. Berbanding terbalik dengan perjalanan pergi yang terasa lama. Sesampainya dirumah aku beristirahat agar pikiranku segar kembali.
Hari-hariku diwarnai dengan memikirkan hasil pengumuman tes akademik di SMA Taruna Nusantara. Setiap kali aku memikirkan hal itu, aku selalu curhat kepada Allah SWT. aku sangat tidak mau mengecewakan orang tuaku terutama ayahku yang sangat mendorongku untuk bersekolah di SMA TN. Aku juga sangat ingin bersekolah disitu, tetapi jika nyatanya aku tak lolos aku harus bisa menerima itu semua.
Setelah merasa satu bulan sudah sampai, aku mencoba untuk pergi ke warung internet didekat rumah. Ketika itu aku baru pulang dari acara perpisahan sekolah untuk kelas IX yang diadakan di Yogyakarta. Tentu dengan badan yang masih dalam keadaan lelah aku tak menghiraukannya. Dengan tergesa-gesa sku pergi, sesampainya aku langsung membuka website Taruna Nusantara. Sangat tepat, pengumuman itu sudah ada. Aku mencari nama Abdul Aziz dari kota DKI Jakarta. Sungguh sangat kecewa, pada daerah DKI Jakarta nama aku tidak ada. Karena masih belum percaya, aku mencoba untuk mencari namaku. Dengan mata yang berlinang air mata, aku mencoba untuk menahan tangisan itu. dengan gagalnya pada tahap pertama, secara otomatis aku tak bisa melanjutkan tahap tes selanjutnya. Tak berlama-lama aku langsung pulang dan mengabarkan kabar buruk ini kepada ibu.
“Diterima tidak Ziz?” Tanya ibuku dengan memberika senyuman.
“Tidak bu, aku sangat kecewa.” Aku menjawab dengan nada lemah dan tak tega memberitahu kabar yang tak baik itu.
“Tidak diterima?” Tanyanya dengan heran.
“Iya bu, namaku tidak ada pada daftar pengumuman itu.” Jawabku.
“Yasudah kamu tidak usah sedih dan menyesal, mungkin ani adalah hal yang terbaik untuk kamu. Perjalanan masih panjang, sekolah bagus tak hanya disitu saja.” Jawabnya dengan memberikan motivasi, aku juga tak tahu apakah dalam hatinya kecewa seperti diriku. Tapi dia tak menunjukkan kekecewaannya kepadaku.
“Iya bu, ini adalah pelajaran hidup bagiku.” Jawabku dengan nada sedih.
Kegagalanku untuk menjadi siswa SMA Taruna Nusantara nampaknya hany sebuah impian saja bagiku. Impian yang telah kuusahakan sejak SD kelas 6 hanya ditentukan dengan tes yang dilakukan selama empat jam. Sebuah ketidakadilan aku rasakan.
Dengan gagalnya aku pada tahap pertama tes masuk SMA Taruna Nusantara, telah menambah kecewa ayahku. Itu yang aku rasakan, mengapa? Karena, pasti sedihnya ayahku ketika ditinggal oleh nenek masih belum habis atau dengan kata lain masih merasakan duka. Ditambah dengan kegagalanku, pasti ia merasakan kesedihan yang berlipat. Aku merasa kegagalan itu adalh sebuah hal terbodoh yang aku lakukan. Mungkin aku belum mempersiapkan segala hal  dengan maksimal, sehingga aku mendapatkan sebuah kegagalan. Aku sangat sedih telah mengecewakan orang tuaku. Mulai saat itu aku bertekad untuk tidak berbuat kesalahan yang bisa menyebabkan orang tua bisa kecewa.
Ayah, ibu, doakan anakmu agar sukses dalam mencapai segala cita-cita. Sehingga bisa membahagiakan kalian. Doa kalian adalah senjata utama bagiku dalam menjalani hidup ini.

0 komentar:

Posting Komentar